KIAT MENANGANI SISWA YANG BERMASALAH DI SEKOLAH

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan.

 

Makalah ini merupakan salah satu tugas dari Mata Kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan. Selesainya penyusunan makalah ini berkat bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada yang terhormat :

 

  1. Ibu Paulina F. V. L. D. Kafiar, S.Pd, M.Pd, FLE selaku Dosen Pengampu Mata KuliahPengantar Ilmu Pendidikan yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam pelaksanaan perkuliahan.
  2. Rekan-rekan semua di FakultasSastra.

 

Semoga Tuhan memberikan balasan atas kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diharapkan oleh penulis. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkompeten. Amin.

 

 

Manokwari, 18 November 2013

 

 
 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………..        i

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………        ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang ……………………………………………………………………….        1

1.2  Rumusan Masalah …………………………………………………………………..        2

1.3  Tujuan ……………………………………………………………………………………        2

BAB II PEMBAHASAN

2.1  Pendekatan Siswa Bermasalah ………………………………………………….        3

2.2  Mekanisme Penanganan Siswa Bermasalah ………………………………..        4

2.3  Tingkatan Masalah Siswa Beserta Mekanisme Penanganannya ……..        5

2.4  Penyebab dan Cara Mengatasi Anak yang Malas Belajar ……………..        6

BAB III PENUTUP

3.1  Kesimpulan …………………………………………………………………………….        11

3.2  Saran ……………………………………………………………………………………..        11

DAFTAR PUSTAKA


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Setiap orangtua pasti berharap agar anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Alangkah bahagianya para orangtua apabila anak-anaknya yang sudah menginjak usia sekolah dapat bersekolah dengan baik, bisa bangun pagi-pagi, tidak bermasalah dengan teman-temannya, rajin belajar, tidak suka berbohong, sopan, suka menolong, patuh kepada orangtua dan guru, apalagi rajin pula beribadah.

Namun, apabila anak tumbuh dan berkembang tidak sesuai dengan yang diharapkan, misalnya mudah memberontak, atau kalau sang anak sudah mulai besar ia suka berbohong, mencuri, menakali teman, atau malas belajar, tidak jarang orangtua dan guru kebingungan bagaimana cara mengatasinya. Ketika sekali atau dua kali orangtuamenasihati anak tersebut namun tetap tidak berubah, tak sedikit pula orangtua yang justru memarahi anaknya, memberikan hukuman, atau bahkan memukul sang anak. Ketika keadaan sudah begini, tidak banyak dari orangtua yang bisa berpikir dengan tenang untuk mencari jawab mengapa anaknya menjadi bermasalah.

Anak bermasalah yang dimaksudkan di sini adalah anak yang mempunyai perilaku tidak sesuai dengan keinginan atau harapan orangtua yang berkesesuaian dengan nilai-nilai yang dianut oleh orangtua, keluarga, atau bahkan lingkungan. Di dalam menangani anak bermasalah apakah dibenarkan melalui cara, misalnya, memarahi anak, mengurung anak, atau bahkan memukulinya? Sudah tentu, cara-cara tersebut tidak dapat dibenarkan, di samping termasuk “kejahatan terhadap anak”, cara tersebut juga tidak efektif untuk mengubah perilaku anak bermasalah menjadi baik. Jika memang berubah menjadi baik, perubahan yang terjadi akan menyimpan kesan buruk dalam diri anak, atau perubahan itu tidak berlangsung lama karena tidak berangkat dari sebuah kesadaran.

Pada saat sekarang ini menjalani profesi sebagai tenaga pendidik bisa di katakan tidak mudah. Hal ini dikarenakan selainharus mempersiapkan materi yang akan di sampaikan kepada siswanya, ia juga harus bisa memahami psikologi anak didiknya dan mengatasi segala masalah yang disebabkan oleh para anak didiknya sendiri,baik itu ketika anak didiknya melakukan ulah di dalam kelas maupun di luar kelas.Jika seorang tenaga pengajar tidak bisa mengatasi segala masalah yang terjadi maka  tenaga pengajar tersebut akan terbawa emosi,yang suatu saat bisa ia luapkan kepada anak didiknya bahkan dapat berupa tindakan kekerasan yang bisa meninggalkan bekas luka terhadap siswa yang bersangkutan.Jika hal tersebut terjadi maka tenaga pendidik yang bersangkutan akan terkena undang-undangPasal 54 Undang-undang No. 23 Tahun 2001 tentang perlindungan Anakyang menyatakan “Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya didalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya

Dari berbagai keadaan tersebut maka penulis mencoba mengambil tema “Kiat Menangani Siswa yang Bermasalah di Sekolah” guna mengetahui langkah-langkah yang tepat dalam menangani masalah-masalah peserta didik di sekolah.

 

1.2  Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Apakah saja yang menyebabkan siswa menjadi bermasalah di sekolah?
  2. Bagaimana mekanisme penanganan siswa yang bermasalah di sekolah?

 

1.3  Tujuan

Dari rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan makalah adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui penyebab siswa menjadi bermasalah di sekolah.
  2. Menjelaskan mekanisme penanganan siswa yang bermasalah di sekolah.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Pendekatan Siswa Bermasalah

Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah, dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah, khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu melalui pendekatan disiplin dan pendekatan bimbingan dan konseling.

Penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah, aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Kendati demikian, harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Sebagai lembaga pendidikan, justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya.

Oleh karena itu, disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera, penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun, tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah, sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.

 

2.2  Mekanisme Penanganan Siswa Bermasalah

Kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut, meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Oleh karena itu, kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi.

Sebagai ilustrasi, misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas, sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian, siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin, mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling, maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya, diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya, misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi, keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya, keinginan untuk melanjutkan sekolah, serta hal-hal positif lainnya, meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah.

Perlu digarisbawahi, dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah, dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya.

 

2.3  Tingkatan Masalah Siswa Berserta Mekanisme Penanganannya

Lebih jauh, meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konselinglebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan, pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. Dalam hal ini, perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). Dalam hal ini, Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya, yaitu :

  1. Masalah (kasus) ringan, seperti: membolos, malas, kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi dengan teman sekolah, bertengkar, minum minuman keras tahap awal, berpacaran, mencuri kelas ringan. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah.
  2. Masalah (kasus) sedang, seperti: gangguan emosional, berpacaran, dengan perbuatan menyimpang, berkelahi antar sekolah, kesulitan belajar, karena gangguan di keluarga, minum minuman keras tahap pertengahan, mencuri kelas sedang, melakukan gangguan sosial dan asusila. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor), dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah, ahli/profesional, polisi, guru dan sebagainya. Dapat pula mengadakankonferensi kasus.
  3. Masalah (kasus) berat,seperti: gangguan emosional berat, kecanduan alkohol dan narkotika, pelaku kriminalitas, siswa hamil, percobaan bunuh diri, perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater, dokter, polisi, ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus.

Dengan melihat penjelasan di atas, tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal.

 

2.4  Penyebab dan Cara Mengatasi Anak yang Malas Belajar

Malas dijabarkan sebagai tidak mau berbuat sesuatu, segan, tak suka, tak bernafsu. Malas belajar berarti tidak mau, enggan, tidak suka, tak bernafsu untuk belajar ( Muhammad Ali, Kamus Bahasa Indonesia)

Dalam mengatasi masalah pada anak, seorang guru juga harus menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua siswa. Guru hanya mampu mengontrol anak tersebut apabila berada di sekolah. Selanjutnya orang tua yang mengontrol anaknya di rumah. Oleh sebab itu guru diharapkan untuk menjelaskan upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mendidik anak di lingkungan rumah.

Anak malas belajar sudah menjadi salah satu keluhan umum orang tua. Kasus yang biasa terjadi adalah anak lebih suka bermain dari pada belajar. Anak usia sekolah tentunya perlu untuk belajar, antara lain berupa  mengulang kembali pelajaran yang sudah diberikan di sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah (PR)  ataupun mempelajari hal-hal lain di luar pelajaran sekolah.

Jika anak-anak tidak suka belajar dan lebih suka bermain, itu berarti belajar dianggap sebagai kegiatan yang tidak menarik buat mereka, dan mungkin tanpa mereka sadari juga dianggap sebagai kegiatan yang tidak ada gunanya karena bagi mereka tidak secara langsung dapat menikmati hasil belajar. Berbeda dengan kegiatan bermain, jelas-jelas kegiatan bermain menarik buat anak-anak, dan keuntungannya dapat mereka rasakan secara langsung (perasaan senang yang dialami ketika bermain adalah suatu keuntungan).

Faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab utama siswa untuk malas belajar yaitu :

  1. Faktor Intrinsik (dalam diri anak sendiri) 
  • Kurangnya waktu yang disediakan untuk bermain 
  • kelelahan dalam beraktifitas (misal, terlalu banyak bermain)
  • sedang sakit
  • sedang sedih (misal, bertengkar dengan teman sekolah)

     2   Faktor ekstrinsik

  • Sikap orang tua yang tidak memperhatikan anak dalam belajar atau sebaliknya. Banyak orang tua yang menuntut anak belajar hanya demi angka (nilai) dan bukan atas dasar kesadaran dan tanggung jawab anak selaku pelajar.
  • Sedang punya masalah di rumah 
  • Bermasalah disekolah (phobia sekolah, sehingga apapun yang berhubungan dengan sekolah jadi enggan untuk dikerjakan).
  • Tidak mempunyai sarana yang menunjang belajar (misal tidak tersedianya ruang belajar khusus, meja belajar, buku pejunjang, dan penerangan yang bagus, alat tulis, buku, dan sebagainya)
  • Suasana rumah penuh dengan kegaduhan, keadaan rumah yang berantakan ataupun kondisi udara ynag pengap. Selain itu tersedianya fasilitas permainan ynag berlebihan di rumah juga dapat mengganggu minat belajar anak, mulai dari radio, tape, VCD, DVD, atau komputer dan Plays Stations. 

Mencari penyebab-penyebab masalah pada siswa sehingga malas belajar merupakan salah satu cara untuk mengatasi malas belajar pada siswa. Cara selanjutnya yang dapat digunakan dalam mengatasi hal-hal tersebut yaitu :

 

  1. Menanamkan pengertian yang benar tentang belajar pada anak sejak dini.Terangkan dengan bahasa yang dimengerti anak, menumbuhkan inisiatif belajar pada anak, menumbuhkan kesadaran serta tanggung jawab selaku pelajar pada anak merupakan hal lain yang bermanfaat jangka panjang.
  2. Berikan contoh belajar pada anak.Anak cenderung meniru perilaku oarang tua. Ketika menyuruh dan mengawasi anak belajar, orang tua juga perlu untuk terlihat belajar (misalnya membaca buku). Sesekali ayah dan ibu perlu berdiskusi satu sama lain, mengenai topik – topik serius.
  3. Berikan insentif jika anak belajar.Insentif yang dapat diberikan ke anak tidak selalu harus berupa materi, tapi bisa juga berupa penghargaan dan perhatian. Pujilah anak saat ia mau belajar tanpa mesti disuruh 
  4. Sering mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang diajarkan di sekolah pada anak (bukan dalam keadaan mengetes anak, tapi misalnya sembari ikut menjawab kuis ). Jika anak bisa menjawab, puji dia dengan menyebut kepintarannya sebagai hasil belajar. Kalau anak tidak bisa, tunjukkan rasa kecewa dan mengatakan “Yah Ade nggak bisa jawab, nggak bisa bantu Mama deh. Ade, di buku pelajarannya ada nggak sih jawabannya? Kita lihat yuk sama-sama”. Dengan cara ini, anak sekaligus akan merasa dipercaya dan dihargai oleh orangtua, karena orangtua mau meminta bantuannya. Mengajarkan kepada anak pelajaran-pelajaran dengan metode tertentu yang sesuai dengan kemampuan anak. Misalnya active learning atau learning by doing, atau learning through playing, sehingga anak merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan.
  5. Komunikasi. Hendaklah orangtua membuka diri, berkomunikasi dengan anaknya guna memperoleh secara langsung informasi yang tepat mengenai dirinya. Carilah situasi dan kondisi yang tepat untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengannya. Setelah itu ajaklah anak untuk mengungkapkan penyebab ia malas belajar. Pergunakan setiap suasana yang santai seperti saat membantu ibu di dapur, berjalan-jalan atau sambil bermain, tidak harus formal yang membuat anak tidak bisa membuka permasalahan dirinya.
  6. Menciptakan disiplin.Jadikan belajar sebagai rutinitas yang pasti.
  7. Menegakkan kedisiplinan.Menegakkan kedisiplinan harus dilakukan bilamana anak mulai meninggalkan rutinitas  yang telah disepakati. Bilamana anak melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul).  gunakanlah konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat diterima oleh akal pikiran anak.
  8. Pilih waktu belajar terbaikuntuk anak, ketika anak merasa segar. Mungkin sehabis mandi sore. Anak juga bisa diajak bersama-sama menentukan kapan waktu belajarnya.
  9. Kenali pola kemampuan dan perkembangan anak kemudian  susunlah suatu jadwal belajar yang sesuai.Dalam hal ini IQ, EQ, kemampuan konsentrasi ,daya serap dan sebagainya.
  10. Menciptakan suasana belajar yang baik dan nyaman. Setidaknya orangtua memenuhi kebutuhan sarana belajar, memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat belajar. Sebagai selingan orangtua dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana belajar tidak tegang dan tetap menarik perhatian.
  11. Menghibur dan memberikan solusi yang baik dan bijaksana pada anak.Dalam hal ini jika anak sakit/sedih.

 

Beberapa hal yang tidak kalah pentingnya dalam menyikapi anak yang sedang dilanda malas belajat adalah :

  1. Orangtua harus menyadari sisi positif sang anak.

Galilah sisi positif anak agar anak menyadari dirinya sendiri untuk mengatasi masalahnya. Pernah nggak sih kamu menghadapi PR yang sangat sulit, tapi akhirnya bisa mengatasinya? Ajak anak untuk mengingat ingat, dan kemudian bercerita. Begitu anak mengingat momen itu, gali lebih jauh. PR apa itu, apa saja kesulitannya, bagaimana dia mengatasinya, dan seterusnya.

Anak akhirnya tersadar bahwa dia bisa mengatasi kesulitan-kesulitannya itu, karena dia memiliki sisi positif tertentu. Sisi itu bergantung dari sang anak. Bisa saja karena kesabaran, keuletan, usaha dia untuk bertanya kepada teman, dan sebagainya. Perkuat keyakinan anak, atau sadarkan anak. Misalnya dengan mengatakan: Nah, kamu pernah mengalami hal yang seperti ini, dan berarti kamu bisa mengatasinya

 

  1. Gunakan imajinasi anak

Orangtua membantu anak membayangkan, apa yang dia inginkan untuk masa depannya. Baik dalam waktu panjang atau pendek. Pancing anak untuk membayangkan sesuatu yang menyenangkan jika dia berhasil mengerjakan PR-nya dengan baik., kira-kira apa ya komentar dari guru? Minta dia menggambarkan imajinasinya dengan jelas, apa jadinya jika PR-nya bagus. Mulai dari bagaimana senyum sang guru, komentarnya, dan sebagainya.

 

  1. Mengarahkan anak untuk berteman dan “hidup” dalam lingkungan yang baik dan mendukung.

 

  1. Tidak terfokus bahwa belajar hanya berkutat pada buku non fiksi.

Gunakan segala hal yang baik yang mampu membuat anak “belajar”tentang segala sesuatu, termasuk permainannya karena dunia bermain adalah dunia anak-anak Pilih dan arahkan permainannya sehingga anak bisa berkembang.

 

  1. Memberikan bekal nilai-nilai religius pada anak

Inilah faktor yang sangat penting ,disamping doa orang tua akan anak-anaknya. Apalagi di jaman yang berkembang dengan pesatnya. Tak mungkin orang tua memberikan pengawasan secara kasat mata terus menerus.Juga kemajuan teknologi. Satu hal yang menjadi jawabnya adalah: beragama dengan baik dan benar.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

Dengan demikian orangtua dan tenaga pendidik mempunyai peran penting dalam penanganan siswa yang bermasalah, hal tersebut tidak semata-mata menjadi tanggung jawab tenaga pendidik di sekolah saja tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal.

Dalam mengatasi siswa yang bermasalah tidak di benarkan untuk melakukan tindakan kekerasan yang bahkan dapat melukai siswa tersebut. Upaya-upaya yang positif seperti mendekati dan mengenal pribadi dari siswa bermasalah tersebut jauh lebih baik untuk diterapkan.

 

3.2  Saran

Sebagai calon tenaga pendidik sebaiknya mampu mengerti dan memahami kepribadian peserta didiknya sehingga apabila pendidik menemui masalah pada siswanya, pendidik dapat mengambil upaya positif dalam mengatasi siswa yang bermasalah di sekolah tersebut.

 

DAFTAR ISI

 

http://www.m-edukasi.web.id/2013/07/penanganan-siswa-bermasalah.html (diunduh pada 13/03/2014 pukul 05:23)

http://www.e-psikologi.com/anak/060502.htm (diunduh pada 13/03/2014 pukul 05:47)

http://www.keluargabahagia.com/artikel.php?act=detail&id=13 (diunduh pada 14/03/2014 pukul 15:39)

Kutipan dari Makalah yang disusun oleh Dewi Musarofah

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s